Kepala Desa Raerobo Bantah Buat Laporan Dana Desa Fiktif   

Ilustrasi Korupsi Dana Desa

Menia, Pelopor9.com – Kepala Desa Raerobo, di Kecamatan Sabu Liae, Jhon Darius Ratu Lado menaggapi laporan masyarakat tentang adanya dugaan laporan fiktif penggunaan anggaran Dana Desa, pada tahun 2019 dan 2020. Menurutnya merupakan hal yang biasa dan tidak mendasar atau tidak benar. Karena pekerjaan sudah sesuai dengan regulasi.

 

“Itu sah-sah saja dia melopor, nanti kan akan didalami oleh pihak yang berwenang dan apabila mereka panggil, saya siap menghadapi dan mengklarifikasi tentang laporan tersebut” ujarnya kepada media melalui sambungan telpon selulernya pada Senin (04/10/21) lalu.

 

Menurutnya, apa yang dikatakan oleh pelapor yakni Kristanto Kudju adalah rekayasa dan selama ini  pelapor tidak pernah hadir dalam pertemuan pertanggungjawaban. Dugaanya, hanya mendengar bisikan dari masyarakat yang tidak senang dengan dirinya.

 

“Itu rekayasa, dia tidak perna hadir dalam pertemuan dalam rangka pertanggujawaban dan realisai pekerjaan. Dugaan saya, dia hanya dengar bisikan dari orang yang tidak senang dengan saya”ucapnya.

 

Lebih lanjut menurutnya, apa yang dia kerjakan selama ini sudah sesuai dengan regulasi yang ada dan seluruh pertanggungjawaban sudah disahkan bersama.dan apabila ada indikasi pelanggaran dirinya siap bertanggungjawab.

 

“Saya sudah kerja sesuai dengan regulasi yang ada dan seluruh pertanggung jawaban sudah disahkan bersama dan apabila ada indikasi pelanggaran, saya siap bertanggungjawab”tutupnya.

 

Sementara Tokoh Pemuda Kecamatan Sabu Liae, Kristanto Kudju dihubungi secara terpisah, Senin (11/10/21), menegaskan bahwa Kepala Dese Raeboro sedang bersandiwara dan melakukan pembenaran diri. Karena sesuai fakta dilapangan dan juga pelaporan yang dibuat, menunjukan Kepala desa sedang berbohong pada dirinya sendiri.

 

“Saya berani lapor karena saya punya bukti, jadi kalau kepala desa bilang saya rekayasa maka sebaliknya dia yang rekayasa laporan. Dia sedang berbohong pada diri sendiri dengan laporang yang dibuat”tegasnya.

 

Dia mempertanyakan, anggaran untuk meteran sumur bor sebanyak 50 buah dengan harga Rp.250ribu per buah, selang HDP1 sebanyak 4 rol dan Rp.5juta per rol (sesuai RAB). Namun kenyataannya sampai hari ini tidak tidak ada.

 

“Semua item pekerjaan yang ada dalam RAB itu, tidak ada dilapangan dan ini yang dipertanyakan ada dimana uang tersebut”tanya dia.

 

Selain itu, dirinya juga mengatakan bahwa kedalaman sumur Bor tersebut tidak sesuai dengan perencanaan, dimana harusnya 82 meter, tetapi kenyataannya hanya 26 meter, setelah diukur. Karena itu, tim sertifikasi dari Kecamatan tidak berani melakukan sertifikasi.

 

“Lalu kedalaman sumur bor dalam RAB sekitar 82 meter, tetapi setelah tim dari Kecamatan melakukan pengukuran untuk diseertifikasi. Kedalaman hanya 26 meter tidak berani melakukan sertifikasi.

 

“Setelah Kecamatan turun sertifikasi dan diukur hanya 26 m saja. Sehingga Kecamatan tidak berani sertifikasi, juga tidak ada air. Kepala desa minta waktu 12 hari untuk perbaiki tapi sampai hari ini tidak direalisasi”ujarnya lagi.

 

Dirinya juga mempertanyakan upah Hari Orang Kerja (HOK) pekerjaaan MCK dan Gapura yang belum dibayar oleh Kepala Desa. Sementara menurut Bendahara bahwa dana sudah tidak ada lagi ditangan bendahara.

 

“Untuk MCK, belum bayar upah oleh kades ke Darius Ludji sebanyak Rp.2 juta. A da juga Rp.4 juta untuk orang lain, jadi HOK yang belum dibayar sebanyak Rp. 6,5 juta”katanya.

 

Selain itu, untuk pekerjaan Gapura, menurutnya untuk cakar ayam 2 meter tetapi kenyataanya hanya 80cm serta jarak ruas antara cincin tidak sesuai. Namun dirinya akan mendalami hal itu untuk mencari kepastiannya.

 

“Menurut tukang, semua bahan diadakan oleh Kepala Desa sendiri dan tukang bekerja sesuai dengan bahan yang diturunkan dilokasi. Tapi upahnya belum dibayar sama sekali dari tahun 2019.

 

“Bendahara bilang uang tidak ada lagi, nah uang itu kemana? Sementara bayar upah pekerja beluam dan juga item pekerjaan yang saya sebutkan belum ada. Ini pertanda kepala desa sudah membuat laporan fikti”katanya kesal. (R-2).