Kristanto Kudju: Saya Pegang RAB Sumur Bor untuk Dana Desa di Desa Raerobo   

Tokoh Pemuda Kecamatan Sabu Liae, Kristanto Kudju, Foto: Sumber Facebook

Menia, Pelopor9.com – Pernyataan Kepala Desa Raerobo, Jhon Darius Ratu Lodo yang mengatakan laporan masyarakat tentang Dana Desa Fiktif, hanya sebuah rekayasa karena tidak senang dengan dirinya. Dinilai hanya pembenaran diri dan membohongi masyarakat Desa Raerobo. Karena faktanya, dilapangan jauh berbeda dan semua bukti sudah dipegang oleh masyarakat sebagai pelapor.

 

“Saya berani lapor karena saya punya bukti, Saya pegang Rencana Anggaran Biaya (RAB) jadi kalau kepala desa bilang saya rekayasa maka sebaliknya dia yang rekayasa laporan. Dia sedang berbohong pada diri sendiri dengan laporan yang dibuat”kata Tokoh Pemuda Kecamatan Sabu Liae, Kristanto Kudju dihubungi secara terpisah, Senin (11/10/21),

 

Dia menegaskan, Kepala Desa Raerobo sementara membohongi masyarakat desa Raerobo dengan laporan pertanggungjawaban Dana Desa selama ini. Anggaran yang dipergunakan untuk sumur bor tidak membawa dampak positif bagi masyarakat dan dikerjakan tidak sesuai RAB.

 

“Fisik proyek tidak sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB), sumur bor itu satu paket dengan bak penampungan air, terus meteran air ke rumah warga. Jadi kalau dia (kepala desa) bilang sumur itu sudah digunakan, itu tidak benar dan tidak ada alasan karena Seroja”tegasnya.

 

Dia mempertanyakan, anggaran untuk meteran sumur bor sebanyak 50 buah dengan harga Rp.250ribu per buah, selang HDP1 sebanyak 4 rol dan Rp.5juta per rol (sesuai RAB). Namun kenyataannya sampai hari ini tidak tidak ada.

 

“Semua item pekerjaan yang ada dalam RAB itu, tidak ada dilapangan dan ini yang dipertanyakan ada dimana uang tersebut”tanya dia.

 

Selain itu, dirinya juga mengatakan bahwa kedalaman sumur Bor tersebut tidak sesuai dengan perencanaan, dimana harusnya 82 meter, tetapi kenyataannya hanya 26 meter, setelah diukur. Karena itu, tim sertifikasi dari Kecamatan tidak berani melakukan sertifikasi.

 

“Lalu kedalaman sumur bor dalam RAB sekitar 82 meter, tetapi setelah tim dari Kecamatan melakukan pengukuran untuk diseertifikasi. Kedalaman hanya 26meter tidak berani melakukan sertifikasi.

 

“Setelah Kecamatan turun sertifikasi dan diukur hanya 26 m saja. Sehingga Kecamatan tidak berani sertifikasi, juga tidak ada air. Kepala desa minta waktu 12 hari untuk perbaiki tapi sampai hari ini tidak direalisasi”ujarnya lagi.

 

Dirinya juga mempertanyakan upah Hari Orang Kerja (HOK) pekerjaaan MCK dan Gapura yang belum dibayar oleh Kepala Desa. Sementara menurut Bendahara bahwa dana sudah tidak ada lagi ditangan bendahara.

 

“Untuk MCK, belum bayar upah oleh kades ke Darius Ludji sebanyak Rp.4 juta, Marthen Mamo Rp. 2jutaan.4 juta untuk orang lain, jadi HOK yang belum dibayar sebanyak Rp. 6,5 juta”katanya.

 

Selain itu, untuk pekerjaan Gapura, menurutnya untuk cakar ayam 2 meter tetapi kenyataanya hanya 80cm serta jarak ruas antara cincin tidak sesuai. Namun dirinya akan mendalami hal itu untuk mencari kepastiannya.

 

“Menurut tukang, semua bahan diadakan oleh Kepala Desa sendiri dan tukang bekerja sesuai dengan bahan yang diturunkan dilokasi. Tapi upahnya belum dibayar sama sekali dari tahun 2019 sebanyak Rp. 4 juta.

 

“Bendahara bilang uang tidak ada lagi, nah uang itu kemana? Sementara bayar upah pekerja beluam dan juga item pekrjaan yang saya sebutkan belum ada. Ini pertanda kepala desa sudah membuat laporan fikti”katanya kesal. (R-2).