Suasana penanaman mangrove di muara Wuihebo Desa Raemadia
Menia, Pelopor9.com - Semangat masyarakat pesisir Muara Wuihebo, Desa Raemadia, Sabu Raijua yang tergabung dalam komunitas mangrove Wuihebo dalam menanam mangrove dan merawat pesisir Wuihebo patut diapresiasi dan diacungi jempol.
Melalui Program GEF-SGP Fase 7 di bentang alam Sabu Raijua, Perkumpulan Masyarakat Penanganan Bencana (PMPB) Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadirkan praktisi mangrove selama lebih dari 20 tahun sekaligus ketua kelompok Dalek Esa, DesaTanah Merah Kabupaten Kupang, Jhoni Mesakh.
Kehadiran Jhoni di Sabu Sabu Raijua memotivasi kelompok mangrove yang dikemas dalam kegiatan Cerita, Edukasi dan Praktik Pembibitan Mangrove serta Penanaman Mangrove pada tanggal 6 - 7 Desember 2025 bersama komunitas mangrove Wuihebo, Jemaat GMIT Imanuel Wuihebo.
Project Manager PMPB NTT - GEF SGP Fase 7, Weltji Yastri Doek menyampaikan bahwa PMPB NTT memanfaatkan anggaran sisa kegiatan untuk mendukung komunitas Mangrove Wuihebo. Dimana mendatangkan benih dan anakan mangrove dari kabupaten Kupang, kegiatan edukasi dan pembuatan rumah pembibitan mangrove.
PMPB NTT merupakan bagian dari 14 lembaga mitra yang tergabung dalam konsorsium Rai Hawu, bersama lembaga yang domisili di Sabu Raijua di antaranya komunitas IMAN dan Perkumpulan Ekologi Rai Hawu untuk konservasi air di Pulau Raijua, Kampung Adat Dara Rae Dabba untuk urusan lontar.
“Itu lembaga yang domisili Sabu Raijua, kami salah satunya, PMPB NTT”, katanya.
Secara ekologis mangrove memiliki fungsi mencegah abrasi, meredam gelombang dan tsunami, menjadi tempat bertelur dan mencari makan bagi ikan, udang, kepiting, kerang, serta menyerap karbon dioksida dan menjadi habitat satwa darat seperti burung, kera, biawak, dan ular.
“Kalau ada gelombang besar, juga bisa mencegah gelombang sampai di rumah pesisir. Waktu badai Seroja 2021, mengrove membantu melindungi rumah kami, memang tidak separah di tempat yang tidak ada mangrove”,kata Johni.
Dikisahkan bahwa Desa Tanah Merah mengalami abrasi besar sejak sekitar 1978 akibat pengambilan pasir, sehingga pesisir menjadi kosong dan masyarakat mengalami dampak besar.
“Ayah saya almarhum sejak sekitar 2004–2005 menanam mangrove di Desa Tanah Merah, dimulai dari sekitar 50.000 bibit per tahun di lahan 5 hektar, lalu berkembang sampai lebih dari 145 hektar”,ujarnya.
Mangrove di Desa Tanah Merah sudah menjadi sumber pendapatan nelayan karena udang dan kepiting bisa ditangkap dekat kawasan mangrove tanpa harus jauh ke laut.
Manfaat lain adalah beberapa jenis mangrove juga bisa diolah menjadi sirup, sayur, kopi mangrove, serta memiliki potensi untuk obat-obatan, pewarna alami, dan ekowisata.
“Saya pulang akan mengirim benih/ bibit beberapa jenis (misalnya Ceriops) dari Tanah Merah untuk dicoba ditanam di Wuihebo, Ceriops ini cocok dengan kondisi lahan yang agak kering”,pungkasnya.
Dalam diskusi dihadiri 40-an peserta ini, memperkenalkan jenis jenis mangrove, cara persemaian, dan merawat serta menanam mangrove. Selain itu, membangun kesepakatan bersama dengan pemberlakuan sanksi tegas, Peraturan desa dan monitoring rutin dari kelompok serta masyarakat.
Salah satu peserta diskusi, Elsa Padji Toda mengungkapkan bahwa tidak semua masyarakat sepaham dan terlibat dalam penanaman mangrove. Tantangan lain adalah ternak yang makan daun mangrove.
Akhir diskusi, dilakukan penanaman bersama di sekitar muara Wuihebo. Sebanyak 800 anakan mangrove yang disiapkan PMPB NTT, terdiri dari 2 jenis mangrove Rhizopora dan Bruguiera.
PMPB NTT juga mendatangkan 425 Propagul/benih, sehingga total anakan dan benih sebanyak 1.245. Propagul akan disemaikan selama 3-4 bulan dan selanjutnya ditanam.
Penanaman dilakukan selama dua hari, Sabtu tanggal 6 dan Minggu tanggal 7 Desember 2025. Usai kebaktian utama Minggu, Jemaat GMIT Imanuel Wuihebo, PMPBT NTT menyerahkan pengelolaan kebun pembibitan ukuran 6x10 meter bersama perlengkapan kepada komunitas Mangrove Wuihebo.
Rumah pembibitan ini berlokasi di kompleks Gereja Imanuel Wuihebo, dengan kapasitas tampungan anakan mencapai 10.000 anakan. (R-1)