Pegiat Lingkungan Tanam Mangrove di Muara Wuihebo, Cerita Tantangan dan Keberhasilan!

Suasana Penanaman Mangrove di Hari Lingkungan Hidup tahun 2026 di Muara Wuihebo

Menia, Pelopor9.com – Dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup tahun 2026, sejumlah pegiat lingkungan di Sabu Raijua melakukan penanaman anakan  mangrove di Muara Wuihebo, Desa Raemadia, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Propinsi Nusa Tenggara Timur, Jumat  (5/06/26) sore.

 

Ketua kelompok Mangrove Imanuel Wuihebo, Jublina Wila mengatakan bahwa aksi menanam mangrove di Muara Wuihebo merupakan kegiatan rutin jemaat Gereja Imanuel dan masyarakat dusun Wuihebo. Pasalnya, masyarakat mulai menyadari bahaya abrasi pantai serta manfaat dari penghijauan.

 

“Saya hanya berharap bahwa satu waktu semua masyarakat Dusun Wuihebo khususnya yang juga adalah jemaat Gereja Imanuel secara bersama-sama kita ikut melestarikan lingkungan ini. Di lingkungan ini, terutama di muara supaya paling tidak memperkecil akibat dari abrasi”,katanya usai kegiatan penanaman.

 

Dikatakan, bahwa aksi penanaman mangrove sudah dilakukan sejak tahun 2021. Hasil penanaman itu sudah nampak, bahkan beberapa pohon sudah mulai berbunga. Sehingga di masa mendatang Sabu Raijua  tidak mendatangkan bibit mangrove dari luar karena sudah memiliki persediaan bibit di Wuihebo.

 

“Saya mulai rasa bahwa ada manfaat. Jadi ketika tadi itu kita lihat sudah mulai tumbuh, mulai akarnya mulai keluar berpegangan, mulai ada bunga, ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa dinilai dengan apapun”,ujarnya.

 

Keberhasilan itu, bukan tanpa tantangan. Muara Wuihebo sering terjadi gelombang ekstrem yang merusak anakan mangrove, ternak masih dilepas liar, hingga banjir yang mengikis akar mangrove.

 

Sehingga diperlukan kolaborasi dukungan dari masyarakat sekitar, pemerintah desa dan kabupaten serta pegiat lingkungan. Katanya, sejumlah aksi penanaman dilakukan bersama pihak gereja, pemerintah, pegiat  lingkungan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) serta siswa siswi sekolah.

 

“Kurang kesadaran dari kita, apa yang dilakukan hari ini kita belum berpikir jauh bahwa manfaatnya untuk apa begitu? Kita masih lepas Binatang, sadar bahwa apa yang kita tanam untuk melestarikan ini lingkungan, pas binatang makan gitu kan binatang tidak salah ya. Yang salah ya kita manusia yang punya Binatang”,katanya.

 

Lanjutnya, menanam mangrove adalah melestarikan lingkungan, hal itu penting karena merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan. Sehingga kehadiran gereja dalam mengedukasi jemaat menjadi penting. Terutama di Bulan Lingkungan Hidup yang ditetapkan Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT).

 

“Tuhan kasih bumi ini kan bukan hanya untuk dikelola tetapi juga untuk dipelihara, untuk dijaga. Nah, ini merupakan ibadah”,pungkasnya.

 

Dia berharap adanya dukungan bibit mangrove untuk mendukung semangat masyarakat Dusun Wuihebo dan Jemaat Gereja Imanuel Wuihebo.

 

Pegiat lingkungan yang juga pegawai Balai Kelautan dan Perikanan NTT, Rowi Kaka Mone mengapresiasi dukungan masyarakat Wuihebo dalam menjaga lingkungan, terutama menjaga dan merawat mangrove yang telah ditanam dengan terus melakukan penyulaman anakan yang mati.

 

“Menjaga lingkungan, memelihara lingkungan itu sangat tinggi di desa ini. Khususnya dari kelompok ini (Kelompok Imanuel)”,katanya.

 

Meskipun ada tantangan dari dalam, dari luar, masyarakat tetap maju untuk menjaga kelestarian mangrove yang ada di muara sungai Wuihebo.

 

“Kita berupaya untuk menanam. Nah, ini dari tentu tidak bisa hanya kelompok Mangrove Immanuel Wuihebo saja yang bekerja, tetapi butuh dukungan dari

masyarakat sekitar”,katanya

 

Pegiat lingkungan yang juga koordinator Perkumpulan Ecologi Rai Hawu, Pelipus Libu Heo mengaku berterimakasih atas  peran serta Jemaat Gereja Imanuel Wuihebo yang setia menjaga  dan merawat alam sekitar pesisir Pantai Wuihebo.

 

Hadir dalam kegiatan penanaman ini, komisioner Bawaslu Sabu Raijua, Yulius Boni Geti, warga sekitar. Sekira 50 anakan mangrove jenis Rhisopora ditanam.

 

Bibit mangrove yang ditanam merupakan hasil kegiatan GEF SGP Fase 7 di Sabu Raijua, melalui Yayasan Bina Usaha Lingkungan dengan mitra lapangan Perkumpulan Masyarakat Penanganan Bencana Nusa Tenggara Timur. (R-2)