OPINI: Kecerdasan Buatan dalam Dunia Pendidikan : Ancaman atau Peluang!

Andreas Aprianus Ropilus Koro, S.Pd,.Gr

OPINI: Kecerdasan Buatan dalam Dunia Pendidikan : Ancaman atau Peluang!

 

Oleh : Andreas Aprianus Ropilus Koro, S.Pd,.Gr*

 

Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026

 

Menyoal Keniscayaan Artificial Intelligence (AI) bagi Pendidik dan Pelajar

Artificial Intelligence (AI)  atau kecerdasan buatan  merupakan suatu bidang dalam ilmu computer yang berfokus pada pengembangan sitem dan mesin yang dapat melaksanakan tugas-tugas yang umumnya memerlukan kecerdasan manusia.

 

AI memanfaatkan algoritma serta model matematika untuk memberikan kemampuan kepada computer dan system lainnya dalam belajar dari data,  mengenali pola, dan mengambil Keputusan yang bijaksana.  (Eriana et al., n.d.) Sejarah Artificial Intelligence (AI)  menurut  (Goel and Davies, 2019) mencerminkan perkembangan konsep dan teknologi yang memungkinkan mesin untuk meniru kecerdasan manusia. Proses ini dimulai pada awal abad ke-20 , Ketika ilmuwan seperti Alan Turing mengenai tes untuk menilai kecerdasan mesin.

 

Era modern AI secara resmi dimulai pada tahun 1956 dengan diadakannya Konferensi Darthmout yang diprakarsai oleh McCharthy dan koleganya, yang menjadi landasan bagi penelitian AI. Pada tahun 1950-an hingga1960-an, focus penelitian tertuju pada system berbasis aturan seperti Logic Theorist dan General Problem Solver. Selanjutnya, pada tahun 1970-an menyaksikan munculnya system pakar yang mengkodifikasi pengetahuan manusia, diikuti oleh perkembangan teknik penalaran berbasis pengetahuan pada tahun 1980-an. Namun, minat terhadap AI mengalami penurunan, pada akhir 1980-an dalam periode yang dikenal sebagai “musim dingin AI” .

 

Kebangkitan Kembali terjadi pada tahun 1990-an berkat kemajuan dalam komputasi dan algoritma jaringan saraf. Memasuki abad ke-21, kita menyaksikan dominasi pembelajaran mesin dan penerapan AI di berbagai sektor, termasuk pengenalan suara,  kendaraan otonom, serta layanan Kesehatan dan keuangan. Saat ini , AI terus mengalami perkembangan yang pesat melalui inovasi teknologi, berintegrasi dengan kebutuhan sehari-hari melalui asisten virtual dan aplikasi pintar, serta membuka potensi transformasi besar bagi peradaban manusia di masa depan.

 

Kesadaran  dalam Belajar di Era AI dan Tekanan Akademik

Di tengah derasnya arus teknologi Kecerdasan Buatan/Artificial Intelligence (AI),  banyak peserta didik kini belajar bukan karena ingin memahami, karena takut tertinggal. Pembelajaran yang seharusnya menjadi proses menemukan makna, kini sering tereduksi menjadi sekedar “menyelesaikan tugas” atau  “mendapat nilai”. Padahal , esensi Pendidikan adalah menumbuhkan kesadaran bukan menghafal pengetahuan.

 

Fenomena Superfisial dalam dunia Belajar

Kita hidup di masa di mana segala sesuatu serba cepat, tugas dapat diselesaikan dengan bantuan ChatGPT, esai bisa dibuat dengan satu klik, bahkan ujian bisa dibantu algortima. Ironisnya, kemudian ini sering kali membuat pelajar kedalaman berpikir. Belajar menjadi aktivitas instan tanpa refleksi, dan guru kehilangan ruang untuk membangun proses berpikir yang bermakna. Fenomena ini bukan hanya persoalan teknologi, tetapi persoalan kesadaran. Banyak pelajar kini tidak benar-benar “hadir” dalam proses belajar. Mereka ada secara fisik di kelas, tetapi pikirannya terpecah antara notifikasi media social dan kecemasak akademik. Belajar tanpa kesadaran ibarat membaca tanpa memahami : mata melihat, tetapi hati tak terlibat.

 

Menghidupkan Kembali Kesadaran Dalam Belajar

Kesadaran (Mindfulness) dalam belajar berarti menghadirkan diri sepenuhnya dalam proses belajar mengajar, berpikir dan merasakan apa yang dipelajari dengan penuh perhatian. Konsep ini sejalan dengan filosofi bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menekankan ing ngarsa sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wury handayani, pendidik menuntun kesadaranbatin peserta didik agar menjadi pembelajar mandiri dan berjiwa Merdeka.

 

Dalam konteks modern, mindfulness dapat diterapkan melalui strategi sederhana : memberi waktu jeda refleksi setelah belajar, mengajak siswa menulis jurnal pembelajaran, atau memulai Pelajaran dengan aktivitas kesadaran diri seperti “tarikan nafas bersama” selama satu menit. Kegiatan ini bukan membuang waktu, tetapi menyiapkan ruang batin agar pikiran siap menyerap makna.

 

Dari Superfisial ke Pembelajaran Mendalam, Pendidikan abat ke – 21menuntuk keterampilan 4C, critical thinkhing, creativity, collaboration, dan communication. Namun, tanpa kesadaran, keempat keterampilan itu akan kering dan mekanis. Disinilah peran deep learning atau pembelajaran mendalam menjadi relevan.

 

Pembelajaran mendalam menekankan koneksi antara konsep, refleksi diri, dan makna social dari apa yang dipelajari. Misalnya , Ketika siswa belajar tentang persamaan linear, guru dapat mngaitkannya dengan persoalan ekonomi keluarga atau nilai keadilan dalam pembagian sumber daya. Saat itulah matematika tidak lagi sekedar angka, tetapi menjadi sarana memahami kehidupan. Inilah inti pembelajran mendalam (deep learning); bukan seberapa banyak yang dihafal, melainka seberapa dalam kita memahami dan mengaitkan dengan realitas.

 

Guru sebagai Penuntun Kesadaran

Peran  guru dalam era digital semakin kompleks. Guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi, tetapi menjadi penuntun kesadaran belajar. Guru yang mindfull tidak hanya mengajarkan isi Pelajaran, tetapi juga menanamkan cara berpikir refelktif dan empati, karena kecerdasan buatan (AI) tidak memiliki perasaan hanya manusia menusia yang memiliki perasaan dan empati, AI hanya rasa nyaman sesaat disat kita butuh dan memberikan ilusi empati dan yang diatur oleh algoritma mesin. 

 

Guru tidak hanya sekedar menilai hasil, tetapi memperhatikan proses dan perjalanan batin siswa.  Sayangnya, system Pendidikan kita masih menempatkan hasil akademik di atas proses belajar. Nilai rapor dan ranking sering kali lebih dihargai daripada rasa ingin tahu dan  keberanian bertanya. Padahal, siswa yang sadar akan proses belajarnya justeru lebih siap mengahadapi ketidakpastian dunia kerja dan kehidupan.

 

Menumbuhkan Generasi Reflektif dan Resilien, Generasi masa depan bukan hanya butuh pengetahuan, tetapi juga kesadaran diri. Mereka harus mampu berhenti sejenak di tengah hiruk pikuk informasi, merenung, dan bertanya : apa makna belajar ini bagi hidupku? Tanpa refleksi, pembelajaran hanya melahirkan “robot akademik” yang pandai menjawab, tetapi tidak peka terhadap makna. Kesadaran dalam belajar akan melahirkan generasi reflektif, resilien, dan berempati mereka yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga dewasa secara emosional dan spiritual. Di era AI, kesadaran menjadi satu hal yang tidak bisa digantikan mesin.

 

Kini saatnya dunia Pendidikan Indonesia bergerak dari teaching for test menuju teaching for awareness. Kita perlu mengembalikan makna belajar sebagai perjalanan batin yang membebaskan manusia dari ketidaksadaran. Karena padanya akhirnya, pembelajaran sejati bukan tentang siapa yang tercepat , tetapi siapa yang paling sadar dalam setiap langkahnya.

 

AI dalam Pendidikan bukan sekedar tren teknologi, melainkan revolusi yang dapat mengubah paradigma belajar dan mengajar. Di satu sisi, ia membuka peluang besar untuk personalisasi pembelajaran, efisiensi kerja guru, dan akses belajar yang lebih luas. Di satu sisi lain, AI juga menghadirkan tantangan seperti ancaman terhadap profesi pendidik, ketimpangan akses hingga isu privasi. Alih- alih menolaknya, dunia Pendidikan harus bersikap proaktif dalam memahami dan mengelolah AI dengan bijak. Dengan strategi dan regulasi yang tepat, AI bukanlah ancaman, melainkan peluang besar untuk menciptakan system Pendidikan inklusif, adaptif dan manusia. Selamat Memperingati Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) 2 Mei 2026 : “Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. (****)

 

*Pengajar di SMA Negeri 1 Raijua