Cinta Kandas di Pintu Batas Motaain

PLBN Motaain

Cinta Kandas di Pintu Batas Motaain           

Cinta tak selamanya indah dan romantis. Cinta sepasang sejoli bisa membias jika dirundung masalah. Gerhana cinta bisa merekah bukan saja suatu hubungan gelap. Bisa juga terjadi, karena "perbuatan gelap" yang berujung di Bui. Sangat logis dan terjadi, gerhana cinta di jeruji besi.

Kejadian itu belum pamit dari ingatan. Sesuai pengakuan, dua pasangan sejoli asal Negara Timor Leste hendak bepergian ke Kupang. Entah apa, sebenarnya tujuan perjalanan itu. Begini kisahnya.         

Sebut saja JSP alias Yos, bukan nama sebenarnya. Demikian AS, atau Anjelica, begitu ia disapa. Peristiwa itu terjadi, 29 Mei 2019 lalu. Siapa yang mengira, kalau mereka datang ke Indonesia dari Timor Leste dengan membawa serta barang haram, pil ekstasi dalam jumlah ribuan butir.

Yos dan Anjelica, mungkin saja belum tahu. Apa itu narkoba berkualitas tinggi dan siapa pemilik sebenarnya? Keduanya hanya membawa setelah diserahkan JG, bos perusahaannya. Tentu, mereka taat dan tidak mungkin keberatan. Namanya juga perintah atasan. Apapun resikonya harus dilaksanakan demi pengabdian pada bos.       

Tibalah saatnya, mereka berangkat dan tiba di Indonesia dengan menumpang minibus Paradise. Sebagaimana taat aturan, dua warga Timor Leste itu mengantongi dokumen resmi pelintasan batas negara. Pintu Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain jadi saksi masuk ke Indonesia. Lolos dan tak ada soalnya. Mulus, tak ada aralnya.        

Tapi, apa hendak dikata. Untung tidak dapat diraih. Malang tak dapat ditolak. Nasib sial menimpa. Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Maksud hati ingin mendamba, apa daya masalah menimpa.          

Barang haram yang terselip dalam printer, alat percetakan itu terdeteksi sistem X-Ray yang dikendalikan petugas Bea Cukai PLBN Motaain. Ternyata, sebanyak 4.874 pil berwarna hijau diamankan. Barang gelap ini sangat mencurigakan sehingga harus dideteksi lanjutan.

Kepala Kantor Bea Cukai Atambua, Tribuana Wetangterah mengatakan Narcotics Identification System (NIS) sudah positif memastikan ribuan butir pil ekstasi dalam kemasan lima bungkus plastik hitam. Pil ekstasi itu berkualitas tinggi. Namanya, Metilendioksimetamfetamina (MDMA) sesuai hasil uji laboratorium Kantor Bea Cukai Kelas II Surabaya.     

Hasil uji lab itu membuat penyidik Polres Belu "makan gigi" melakukan penyelidikan dan penyidikan. Proses hukum berjalan. Yos dan Anjelica digiring masuk bui. Ditahan dan mendekam untuk proses pengembangan kasus hukum lebih lanjut.

 

Memprihatinkan memang, karena kisah "perjalanan" cinta Yos dan Anjelica ketimpa nasib sial. Ternyata belum berakhir di pelaminan. Pintu Batas Motaain menguji kesetiaan cinta mereka. Cinta kandas di pintu batas Motaain. Padahal, keberangkatan mereka ke Kupang untuk membeli cincin perkawinan.      

Aparat penegak hukum sudah membongkar rahasia barang haram tersebut. Press Conference dilakukan untuk mengumumkan kepada publik. Bahwa ribuan pil ekstasi membobol pintu PLBN Motaain harus ditelusuri karena ada jaringan Narkoba Internasional terlibat "bermain". Demikian polisi menerangkan kasus ini, karena kasus narkoba termasuk Extra Ordinary Crime.        

Tak bisa dipungkiri lagi. Hanya tangis dan derai air mata terlihat pada wajah dua insan yang sementara mempersiapkan pernikahan ini. Inilah realita dari raut wajah manis dan ganteng keduanya saat Press Conference di Markas Polres Belu, Rabu (26/6/19) siang.

Tak berdaya, Yos dan Anjelica berdiri terpaku dalam kesedihan mendalam di hadapan para wartawan dan undangan. Apalagi dikawal ketat, dua personil polisi Brimob bersenjata lengkap. Tertunduk dan sedih, hanya terlihat dari raut wajah dua warga Timor Leste ini. Tak sadar, Anjelica meneteskan air mata terlebih dahulu hingga membuat Yos tak mampu menahan air mata.    

Meski larut dalam kesedihan, keduanya tegar ketika menjawab pertanyaan Kapolres Belu, AKBP Christian Tobing. Ditanyakan kondisi kesehatan, mereka mengaku sehat.
Demikian, pertanyaan awak media. Mereka juga mengaku baru pertama melakukan perbuatan haram tersebut.    

Sangat disayangkan, ternyata pekerjaan gelap itu hanya dihargai bayaran $ 20 dolar atau sekitar Rp 200 ribu lebih jika dirupiahkan. Yos mengaku jujur, uang itu hanya untuk memenuhi kebutuhan makan dan operasional selama perjalanan ke Kupang.

Perjalanan dua calon Pasangan Suami Istri (Pasutri) ke Kupang dan rencana pernikahannya tidak kesampaian. Kerjaan haram yang diperintahkan bosnya ternyata menghadang niat luhur rencana pengukuhan kesetiaan cinta mereka.

 

Memang benar kata pepatah, Cinta terkadang tak selamanya indah dan romantis. Indahnya cinta bisa membias lantaran dirundung masalah. Gerhana cinta akan merekah ketika dipicu "perbuatan gelap". Tak bisa dipungkiri, gerhana cinta di jeruji terali besi. Kini cinta itu kandas di Pintu Batas Motaain. (Yohanes Berchmans Nahak)