Desa Loboadju 51 Anak Stunting, TP PKK Ajak Makan Kelor dan Ikan

Ilustrasi, Foto: Internet

Sabu Tengah, Pelopor9.com - Masalah stunting (anak pendek), salah satu penyebab adalah kekurangan gizi. Propinsi NTT salah satu  penyumbang terbesar stunting di Indonesia, dan Desa Loboadju Kecamatan Sabu Tengah, Kabupaten Sabu Raijua terdapat 51 anak Stunting.

 

“NTT juara satu gizi buruk dan Stunting, penyumbang stunting terbesar dari Sabu Raijua yakni dari desa Loboadju dengan jumlah 51 orang. Ini desa model penanganan Stunting. Jadi saya minta pak bupati ke depan angka ini harus berkurang. Pak Bupati jangan bangga dengan angka ini karena dipikir masih sedikit padahal ini terbesar,” kata Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Propinsi NTT, Julie Sutrisno Laiskodat pada  Rapat kordinasi dan Pembinaan PKK di Desa Loboadju, Jumat (12/7/19) 

 

Lebih lanjut dikatakannya, untuk mencegah terjadinya masalah Stunting di NTT, khususnya di desa model maka para ibu hamil, menyusui, anak-anak harus mengkonsumsi ikan dan kelor. Jadikan sebagai menu utama setiap hari dalam keluarga. PKK akan membantu kelompok membuat kolam ikan di rumah masing-masing, selain untuk dikonsumsi, bisa mendatangkan uang dengan usaha ikan.

 

“Untuk menjaga agar anak-anak Kita tetap sehat, kuat dan juga pintar maka harus makan ikan dan juga konsumsi kelor. Ibu hamil harus konsumsi kelor dan ikan tiap hari, ini salah satu cara mencegah anak stunting,”tandasnya.

 

Dirinya berharap dengan mengkonsumsi ikan dan kelor maka masa depan anak NTT akan cerah. Tugas pemerintah daerah Sabu Raijua memastikan bahwa semua masyarakat mengkonsumsi ikan dan kelor. Setiap rumah harus ditanam kelor.

 

Sementara Bupati Sabu Raijua, Nikodemus Rihi Heke mengatakan, sangat mendukung langkah yang digerakkan oleh TP PPK. Salah satu cara untuk mencegah Stunting dengan mengkonsumsi ikan dan kelor. Terutama ibu hamil, menyusui dan anak-anak.

 

“Dulu orang selalu bilang “mata mara dahi unu pala doke hia”, artinya kehidupan petani pesisir tergantung pada Laut. Padahal itu salah, sekarang semua harus makan ikan. Apalagi kelor punya kasiat yang cukup tinggi nilai gizinya,” ujar Rihi Heke

 

Semenetra, Rosalin  Chamdra dari Pokja 4 PKK propinsi NTT  juga meminta agar masalah Stunting perlu diperhatikan secara serius. Untuk desa Loboadju terdapat 51 orang yang terdampak stunting, karena itu perlu penanganan yang serius untuk meminimalisir masalah stunting di desa Loboadju. Sementara untuk masalah kematian bayi juga masih cukup tinggi di desa Loboadju.

 

“Angka kematian bayi masih tinggi, jadi nanti PKK Propinsi akan membantu dengan transportasi kepada kader. Memberi perhatian kepada bayi maka akan membantu menurunkan angka kematian bayi,” ujarnya, (R-2/jom).