Kot Pesi

Salah satu makanan tradisional orang dawan,

Kot Pesi

Penulis: Leksi Y. Salukh

Mantan Wartawan Victory News

 

Dengan  gampang dan mudah ditemuinya berbagai makanan ringan dan instan  produksi pabrik  yang  diperjualbelikan  dikios dan toko saat ini dimana-mana  menyebabkan banyak makanan tradisional orang dawan mulai dilupakan dan bahkan ditinggalkan.  Khusus di Kabupaten Timor Tengah Selatan, sejumlah makanan tradisional kini dilupakan. Salah satunya adalah Kot Pesi. Secara harafia  Kot / Koto artinya  Kacang /Arbila.

 

 Kot / Koto sebelum  layak  konsumsi, diproses dengan cara di masak  sebanyak 12 kali. Sekali masak  dibiarkan mendidih  dalam  durasi waktu 30 menit, kemudian membuang air tersebut.  Kot / Koto sebelum di proses  untuk dikonsumsi biasanya di sebut Kot Fui artinya Kacang Hutan/ Arbila Hutan.  Sementara, setelah di proses dengan dimasak sebanyak 12 kali dan layak dikonsumsi  sebutanya beruba menjadi  Kot Pesi.  Berubanya sebutan dari Kot Fui menjadi  Kot Pesi, karena proses masaknya sudah sebanyak 12 kali dan layak dikonsumsi.  Pesi  artinya  meniriskan air hasil masakan beracun  atau  membuang  air yang mengandung racun mematikan berwarna merah. 

 

Dulunya  Kot Pesi  adalah makanan tradisional orang dawan  dulu dimusim hujan tiba yakni bulan desember –bulan februari. Kot Pesi  juga merupakan salah satu makanan alternatif pada musim kelaparan tiba.”  Biasanya  Kot Pesi di konsumsi disaat musim hujan tiba sebagai makanan selingan atau  menjadi makanan  penganti jagung, karena persediaan makan pokok  berupa jagung sudah habis atau tidak cukup,  akibat dari gagal panen pada tahun seblumnya,” Kata Tokoh Masyarakat Desa Kualin, Kecamatan Kualin,  Petrus Andreas Penuam.

 

Kot / Koto  biasanya diambil pada musim kemarau di hutan atau semak, karena arabila tumbuh di hutan atau semak.  Kot/Koto  diambil atau dipilih  pada saat kulitnya sudah kering dan bahkan biji sudah terlepas dan  jatuh ditanah  pada musim kemarau di antara bulan Juli hingga Oktober atau November.  Bila bijinya belum terlepas dari kulit proses pengambilannya lebih muda, karena terkumpul satu tempat, namun bila sudah terlepas dari kulitnya dan berserakan ditanah  proses pengambilannya dilakukan dengan telita dan memakan waktu cukup lama, karena memungut perbiji.   Setelah proses pengambilan  berlangsung dari hutan,  baik yang sudah terlepas dari kulit atu belum dibawa pulang kerumah. Arbila yang kulit belum terkupas akan di kupas kemudian dijemur satu atau dua hari  terlebih duluan sebelum di simpan pada tempat ternetu seperti bakul potongan bambu atau periuk tanah atau dalam karung.

 

 Begitupun biji arbila yang sudah terkupas kulitnya juga setelah sampai dirumah akan dibersihkan dengan cara ditapi kemudian di jemur lagi satu hari baru disimpa pada tempat tertentu sampai musim hujan tiba dibulan desember hingga februari. Bagi yang kekurangan pangan akibat gagal tanam atau gagal panen.  Bagi yang tidak  gagal tanam  dimusim hujan juga akan mengkonsumsi, namun hanya sebatas selingan. Sementara yang gagal akan menjadikan sebagai makanan penganti makanan pokok seperti jagung yakni mengkonsumsi setiap hari.

 

Arbila dipilih atau diambil sekitar bulan Juli  hingga bulan November sebelum musim hujan tiba. Dizaman dulu, bagi masyarakat yang gagal panen atau saat panen hasil kebun berkurang,  tentunya sudah mempredeksi bakal akan terjadi kekurangan makanan dan terjadi kelaparan, sehingga begitu memasuki bulan kemarau yang dimana, kulit Ko/Kot  sudah mulai  kering  akan  berusaha mengumpulkan biji. Tujunnya untuk mengantisipasi kelaparan. ”  Pada saat panen, hasil kebun  masyarakat sedikit maka  masyarakat sudah tahu, kalau akan terjadi kelaparan, maka dengan sendiri akan mulai memanfaatkan waktu untuk mengumpulkan biji Arbila di hutan dengan jumlahnya banyak. Sedangkan yang hasil panen melimpah akan mengumpulkan juga, namun jumlah sedikit , karena itu hanya akan dijadikan sebagai selingan, ”tutur Jubir acara Adat ini.

 

Meski proses  membutuhkan waktu lama baru layak dikonsumsi,  oleh karena  Kot/Koto  memiliki racun  mematikan. Kot Pesi  lebih nikmat dan cocok dikonsumsi  pada musim hujan dengan campuran garam  atau gula  dan dihidangkan dengan kopi atau teh atau bisa juga dicampur dengan parutan kelapa.

 

Alat yang di butuhkan untuk memproses  Kot Fui  menjadi  Kot Pesi  yakni mempersiapkan periuk ukuran besar sesuai banyaknya Kot/Koto yang disediakan. Selain itu,  kayu api dan air yang cukup, karena untuk layak konsumsi harus di masak selama 12 kali dengan cara mengantikan air berulang kali sampai airnya tidak berwarna merah. Cara prosesnya  Kot/Koto  yang sudah disimpan dalam tempat beberapa bulan itu dimasukan kedalam periuk kemudian dimasak selama kurang lebih 2 jam dan apinya harus lumayan baik agar mendidik secara bagus, hingga air pertamanya  keluar. Selama  kurang lebih dua jama berlangsung diturunkan dari tungku api kemudian airnya ditiriskan atau dibuang. Air pertama itu sudha sangta merah  dan selanjutnya sampai kalai ke 12 air tersebut akan bersih, maka sudah dengan sendirinya layak dikonsumsi, oleh karena dipercaya racunnya tidak lagi mengancam keselamatan masyarakat ” Kondisi air pertama yang ditiriskan warnanya kemerahan serupa  darah segar. Air tirisan pertama itu di percaya memiliki racun keras dan mematikan,   sehingga itu dilakukan dengan durasi waktu dua jam. Kali kedua dan seterusnya  warna kemerahannya sudah berkurang.  Hingga kali ke 12 airnya sudah jernih, maka boleh mengkonsumsi ,”urainnya.

 

Proses masak kali kedua dan seterusnya durasi waktunya 30 menit, karena dipastikan untuk selain air racunya keluar kacangnya juga bis amatang untuk dikonsumsi, sebab Kot/Kot  lama baru matang.  Banyak kasus yang menelan korban jiwa, karena  konsumsi  Kot/Koto yang belum ditiris selama 12 kali sampai racun keluar benar-benar.”  Pertama kali dimasak mendidihkan  selama dua jam. Sedangkan kali kedua sampai kali ke 12, rata-rata membutuhkan 30-45 menit mendidih langsung di tiris,”katanya.

 

Setelah 12 kali memasak sampai mendidih dan total waktu lebih dari enam jam dibilas mengunakan air didingin dan siap dikonsumsi, namun ketika masih panas rasannya  tak senikmati dengan kalau di simpan sampai benar-benar dingin. Kot Pesi  yang sudah layak dikonsumsi bisa bertahan sampai tiga hari. ” Kalau tempat penyimpanannya baik, sampai tiga hari masih bisa dikonsumsi dan bahkan lebih tiga  hari juga masih,karena  Kot Pesi tak mudah basi,” ceritannya.

 

Dalam .(www.hhpt.Dispar TTS), ditulis meskipun prosesnya cukup panjang dan makan waktu lebih dari enam kondisi biji, Kot Pesi  tidak akan hancur seperti kacang lain. Biji Kot/Kot setelah di proses dan layak dikonsumsi  memiliki aroma khas. Kot pesi rasanya hambar dan tidak gurih, tapi kalau dikonsumsi akan cepat kenyang. Kot pesi dikonsumsi sebagai makanan alternatif pada musim kelaparan, tidak perlu dicampur.  Kot Pesi  merupakan makanan yang bisa dikonsumsi semua orang tanpa batasan umur.  Dulu tempat penyimpanan Kot Pesi  adalah Ok Beti, yang terbuat dari anyaman dari daun lontar, bahkan bisa juga bisa di simpan di Tuke yang terbuat dari bambu dan bahkan disimpan, tetap pada periuk yang dipakai pada saat diproses. (***)