Lahan Garam Tradisional Di Desa Dainao, Ruben Lay [inzet]
Menia, Pelopor9.com - Hari Jumat, (06/09/24) berkesempatan berbincang dengan bapak Ruben Lay (54), warga RT 09 RW.05 Desa Dainao Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua. Ia didapuk menjadi ketua Organisasi Masyarakat Basis (OMB) Ingin Maju binaan Yayasan Sheep Indonesia (YSI).
Bersama rekan kelompok menginisiasi penanaman kacang hijau sebagai pangan maupun cadangan makanan keluarga. Namun, akibat perubahan iklim dan curah hujan tahun 2024 sangat minim, kelompok dan masyarakat Desa Dainao mengalami gagal tanam.
Tak menyerah begitu saja, warga Desa Dainao terus berupaya dari penghidupan lain seperti menjadi petani garam dan mengiris Lontar/ tuak. Tiga jenis mata pencaharian ini yang menjadi sumber ekonomi keluarga.
Pada musim penghujan antara Bulan Desember - Mei dimanfaatkan menanam kacang hijau, sorgum dan jagung. Musim kemarau mengiris tuak dan bertani garam.
"Pada musim hujan, kami tanam itu pada musim hujan. Tanam Sorgum dengan kacang hijau. Akhir - akhir ini juga ada tanam jagung juga, hanya kendala kami harus pakai pupuk urea", ujar Ruben.
Tiga mata pencaharian ini sudah turun temurun, sejak leluhur yang menopang perekonomian dan pangan keluarga. Hingga warga dari empat desa di Kecamatan Liae yakni Desa Dainao, Desa Eikare, Raerobo dan Mehona bertani garam di pesisir Desa Wadu Walla. Pola dan sistem kerja tak banyak berubah. Wadah berjemur garam sudah menggunakan plastik HDPE atau Geomembrane dari sebelumnya menggunakan Cangkang Kima, Haik, Dan Cekungan Batu.
Perubahan juga terjadi dalam mengolah lahan untuk bertani, pembersihan rumput sudah menggunakan herbisida. Berubah dari menggunakan pacul, Pengoo (red, alat tradisional untuk penggembur tanah)
Hasil dari bertani garam cukup memenuhi kebutuhan setahun sekeluarga. Penjualannya masih barter dengan hasil alam kepada kenalan dan pelanggan di Seba Kecamatan Sabu Barat, Sabu Tengah dan Sabu Timur. Mayoritas ditukar dengan hasil alam seperti gabah, kacang tanah, hingga kebutuhan pokok lainnya.
"Dari leluhur sudah kerja garam tradisional. Kalau musim kemarau, iris tuak jadi gula. dan produksi garam, untuk tukar dengan bahan makanan di masyarakat Sabu Timur, Sabu Seba",kata Ruben, sembari mengaku dirinya sudah sejak usia remaja bertani garam bersama keluarga.
Selama dua tahun terakhir, pelanggan garam mengalami gagal panen sehingga garam masih menumpuk pada gudang penyimpanan petani. Sebagian sudah diantar kepada petani seraya menunggu hasil panen selanjutnya.
Garam diantar langsung ke lokasi pelanggan. Proses penjualan sudah sedikit mudah, dimana sekarang sudah tersedia kendaraan angkutan baik sepedamotor pribadi maupun mobil yang disewakan. Meskipun harga sewa mobil mahal yakni Rp.200.000 pergi pulang. Selain itu sudah ditunjang dengan jalan raya sudah bagus. Sebelum tahun 2000, warga memanggul hasil dengan berjalan kaki. Apabila tidak terjual dipanggul kembali.
"Dulu pikul ke Seba, sekarang sudah mudah. Ada sepedamotor”, ujarnya.
Ruben mengisahkan, proses pembuatan garam cukup mudah dan minim risiko gagal dibanding dengan mata pencaharian mengiris tuak dan bertani ladang yang sangat bergantung pada intensitas curah hujan. Pembuatan garam juga bertepatan dengan musim kemarau yang memanfaatkan air laut untuk pengering.
Meskipun dari sisi proses pembuatan mudah, namun ada bagian yang sulit dalam pembuatan garam adalah bagian pengisian air laut dan memanen. Pengisian laut masih memanggul air untuk diisi pada bak penampungan sementara maupun langsung diisi pada wadah penjemuran.
"Paling sulit kerja garam, pada saat pengisian air. Bisa 50 kali pikul air, sekali pikul 50 liter. Ketika saat panen paling memakan waktu”, tegasnya.
Sementara panen dinilai rumit dan menghabiskan waktu karena wadah pengering garam kecil sekitar 30×15 cm sehingga mengeluarkan sedikit demi sedikit garam. Ukuran wadah penjemuran yang kecil ini sesuai dengan kondisi lahan.
"Yang lebih muda dikerjakan hanya garam saja”, pungkas Ruben.
Pembuatan garam dilakukan selama 3 - 4 bulan, dengan masa panen 14 hari kalender. Dengan teknik penjemuran dipelajari secara turun temurun dari leluhur, yakni pengisian air dilakukan secara bertahap selama 6 tahapan. Garam yang dihasilkan sudah siap dijual dan dapat dikonsumsi langsung meskipun belum ada campuran yodium.
"Dua kali panen satu bulan, kerja 3 bulan saja”, akunya.
Dia berharap pemerintah terutama kandidat yang bertarung dalam Pilkada 2024 memiliki tekad dalam melindungi petani garam tradisional melalui kebijakan dan program kerja yang menjawab kebutuhan petani. Dengan memfasilitasi alat penunjang produksi seperti mesin penyedot air, pelatihan untuk peningkatan kualitas sehingga bersaing di pasar industri.
Pemerintah juga diharapkan memperhatikan mata pencaharian menyadap nira dan bertani ladang dengan mendorong warga menanam dan merawat lontar. Sehingga tidak ada mata pencaharian yang menjadi penghidupan masyarakat menjadi hilang atau punah.
Selain itu, tanaman Lontar juga saat erat dengan kehidupan orang Sabu dan Raijua, seluruh bagian Lontar dimanfaatkan. Lontar juga menjadi tanaman penunjang ekosistem pesisir pantai, maupun pelindung masyarakat pesisir dari hawa air laut dan berperan menekan intrusi air ke daratan.
Ruben mengisahkan pada tahun 1952 terjadi kelaparan karena gagal panen, keluarganya hanya mengandalkan Gula Sabu sebagai makanan utama selama semusim.
Saat ini, harga penjualan eceran garam milik petani Dainao sebesar Rp.10.000 per kilogram. Petani biasa menjual di pasar rakyat di desa pada wilayah Kecamatan Liae. Sebagian dijual dengan berkeliling rumah. (*R-1/Adv-kerjasama YSI dan Pelopor 9)