Kupang Batanam dan Klinik Agro Dorong 4 Komoditi Pangan Lokal Asli Sabu Raijua

Penandatangan Berita Acara Self-Declare 4 Komoditi Pangan Lokal

Menia, Pelopor9.com – Dua penerima donor GEF SGP Fase 7 di Bentang alam Sabu Raijua, yakni Komunitas Kupang Batanam (KUBAT) dan Klinik Agro melalui program mendorong pertanian berkelanjutan untuk perempuan Sabu Raijua, mendorong sertifikasi 4 komoditi pangan asal Pulau Sabu Raijua, kabupaten Sabu Raijua, propinsi Nusa Tenggara Timur.  

 

Keempat komoditi tersebut adalah Padi ladang, dan Bawang merah isi putih dikembangkan di Desa Matei, kecamatan Sabu Tengah. Sedang, kacang hijau kulit hitam, dan sorgum asal pulau Raijua dikembangkan di Desa Tanajawa, kecamatan Hawu Mehawara kabupaten Sabu Raijua, propinsi Nusa Tenggara Timur sejak bulan Nopember 2024 hingga Bulan Juli 2025.  

 

 

Penanggung jawab KUBAT dan Klinik Argo- ICC, Lenny Mooy, dalam arahan kegiatan workshop presentasi hasil kegiatan, dan penandatangan Berita Acara Self-Declare, di aula gedung DPRD Sabu Raijua, mengemukakan bahwa selama pelaksanaan program telah menghasilkan temuan, pembelajaran serta model praktik adaptasi pertanian.

 

Kegiatan workshop di Aula Gedung DPRD Sabu Raijua ini dimaksudkan untuk memvalidasi informasi praktik budaya, luas tanam dan pola tanam, hasil produksi dan produktivitas. Sebagai dasar perencanaan, advokasi, pengembangan program ketahanan pangan daerah.

 

“Fokus kami ke isu-isu yang terkait dengan pangan lokal. Dari hasil kajian kami di 2023  di Pulau Sabu diidentifikasi ada 20 jenis pangan lokal yang masih ada, masih terdata dan masih dibudidayakan oleh petani, masih dimakan, masih dikonsumsi”,katanya, Jumat (5/12/2025).

 

Alasan pemilihan padi untuk dikembangkan adalah kebanyakan masyarakat sekarang lebih banyak makan beras. Sedang padi ladang belum banyak dikembangkan.

 

“Daerah Sabu Tengah itu lebih banyak budidaya padi ladang, maka setelah di digali informasi, ternyata padi ladang yang ada di Sabu Tengah itu dia ada dua macam, yaitu yang warna putih dan merah putih. Merah putih karena karena sistem budidayanya sudah tercampur”,katanya.

 

Selain, mengembangkan varietas lokal, juga dilakukan pengembangan padi hitam dan merah yang didatangkan dari luar Sabu Raijua.

 

“Padi hitam dan padi merah dikembangkan di Matei oleh 10 orang petani dan hasilnya juga sudah ada. Sebagian mereka membagi ke desa Tada, dan sebagian mereka simpan untuk dijadikan benih”,ujarnya.

 

Khusus Desa Tanajawa terdapat 30 petani yang menanam sorgum dan kacang hijau dengan menggunakan teknologi dan penggunaan pupuk organik yang diajarkan komunitas.

 

“Tahun 2023 di ada uji coba di 10 petani dengan ada petani yang 100% menggunakan pupuk organik, ada yang 50% menggunakan 50-50 kimia dan organik, ada 75?n 25%. Budidaya dengan menggunakan bahan organik bisa bertahan dan memberikan hasil yang baik. Disamping itu juga yang masih menggunakan perbandingan 50 organik dan 50 persen pupuk kimia. Sebagian besar sudah meninggalkan dan coba menggunakan bahan organik yang diberikan oleh Kubat”,tambahnya.

 

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Sabu Raijua, Charles Meyok, mengatakan minat masyarakat akan komoditi sorgum terus menurun. Petani di kecamatan Raijua dan Hawu Mehara masih konsisten menanam sorgum.

 

“Produksi sorgum fluktuatif dan cenderung stagnan, tidak bergerak dengan baik”,katanya.

 

Produksi bawang merah isi putih tidak dicatat terpisah dari bawang merah biasa. Sehingga angka produksi tidak dapat dipastikan. Kata dia, bawang merah isi putih akan menjadi perhatian dinas untuk dikembangkan secara masif.

 

“Bawang merah isi putih ini tidak saja menjadi kekayaan jenis pangan yang kita punya, tapi dia punya nilai jual yang lebih dibanding yang biasa. Tadi sudah dijelaskan ini anti kanker tadi dengan harga jual yang lebih tinggi 80.000 per kilo tadi sesuai pengalaman petani. Jadi ini nanti tolong menjadi perhatian”,tambahnya.

 

Pengembangan komoditi padi, sorgum, kacang hijau dan bawang merah isi putih di Sabu Raijua diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis.

 

Dia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Komunitas Kupang Bertanam dan Kelompok Studi Klinik Agro yang telah memberi perhatian kepada pembangunan pertanian di Kabupaten Sabu Raijua sehingga menjadikan Sabu Raijua sebagai lokus kegiatan pengembangan inovasi pertanian dan pangan lokal adaptif.

 

Host Konsorsium Rai Hawu dari yayasan Pikul Kupang, Zadrak Mengge, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakaan bagian penting dalam melestarikan dan melindungi pangan lokal dari ancaman kepunahan.

 

“Sebenarnya kita sedang mendeklerasi ke orang-orang bahwa ini adalah pangan kita. Jangan sampai esok-esok orang mengklaim bahwa ini adalah pangan mereka”,katanya.

 

Dia berterimakasih kepada petani yang terus melestarikan pangan lokal. “Pangan merupakan bagian dari budaya kita. Terimkasih kepada bapak ibu petani, yang terus menanam dan terimkasih juga kepada Kubat dan klinik Argo yang menginisiasi kegiatan ini”,pungkasnya.

 

Akhir kegiatan workshop dilakukan penandatangan berita acara self-declare untuk 4 komoditi pangan lokal Sabu Raijua. Dokumen tersebut sebagai bagian untuk diusulkan kepada kementerian hukum dan ham. (R-1)