Kunjungan Tim NUS Singapura di Raijua
Menia, Pelopor9.com - Profesor Yueh Siang Chang bersama empat mahasiswa dari National University of Singapore (NUS) mengunjungi Rumah belajar dan sanggar Binaan Yayasan Generasi Peduli Sabu Raijua (GPS) di Sabu Raijua, Sabtu (02/05/2025).
Yakni Rumah Inspirasi Tunas Baru, Taman Baca Tabah Turangga dan Sanggar Seni Tari Musik Niki Deo di Desa Bolua, Kecamatan Raijua.
Profesor Yueh Siang Chang atau Miss Siang mengatakan bahwa kunjungan untuk mempelajari berbagai inisiatif yang telah dijalankan GPS dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan, literasi, dan pelestarian budaya di kalangan generasi muda.
"Kegiatan ini juga menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara mahasiswa internasional dengan komunitas setempat", ujarnya.
Melalui program Impact Experience Project, mahasiswa NUS diharapkan mampu mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan pengalaman lapangan, serta berkontribusi secara nyata dalam menjawab berbagai tantangan sosial di tingkat komunitas, termasuk di wilayah Sabu Raijua.
Ia menilai, keberadaan Rumah Inspirasi dan taman baca memberikan manfaat signifikan bagi generasi muda Sabu Raijua, khususnya dalam meningkatkan minat baca, memperluas wawasan, serta mengembangkan keterampilan dasar seperti komunikasi, kreativitas, dan berpikir kritis.
Sementara itu, sanggar seni menjadi ruang penting bagi anak-anak dan remaja untuk menyalurkan bakat di bidang seni tari dan musik, sekaligus menjaga warisan budaya lokal agar tetap hidup dan berkembang.
Profesor Siang dan tim akan membuat komik cerita rakyat sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya Sabu Raijua serta mendukung program literasi budaya yang selama ini digerakkan oleh Yayasan GPS bersama tim.
Ketua Yayasan GPS, Jefrison Hatianto Fernando mengharapkan National University of Singapore (NUS) terus berkolaborasi dengan Yayasan GPS dalam mengembangkan berbagai program di bidang pendidikan dan kebudayaan di Sabu Raijua.
"GPS tidak hanya menyediakan sarana belajar, tetapi juga melakukan pendampingan berkelanjutan, menggerakkan relawan, serta menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan internasional", kata penulis Buku Mitologi dan budaya Sabu Raijua itu.
Lanjutnya, sebagai Yayasan yang bergerak di bidang sosial, pendidikan dan kebudayaan sejak 2 Juni 2015. Sudah ada 4 rumah inspirasi atau Rumah belajar, dan 3 Sanggar Seni binaan Yayasan GPS.
Kunjungan tim NUS ke Pulau Raijua sebagai bagian dari program Impact Experience Project (IEx) yang diselenggarakan oleh NUS College. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi bersama Pemda Sabu Raijua serta Yayasan Generasi Peduli Sabu Raijua (GPS).
Selama kunjungan, tim didampingi ketua Sekaligus pendiri Yayasan GPS, Jefrison Hariyanto Fernando, Pendiri Yayasan GPS Yulius Boni Geti, para pengurus Yayasan GPS, Rivanus Rade Rohi, Nguru Kolo, Sherly Ivona Illu dan Lebe Kolo.
Usai kunjungan, tim berbelanja di pusat tenun ikat berbahan pewarna alami di bilangan kelurahan Ledeunu.
Tim NUS sudah tiga kali berkunjung ke Sabu Raijua untuk melihat kekayaan budaya dan tenun ikat serta berdiskusi banyak hal dengan para pegiat budaya, pegiat literasi, tokoh adat, tokoh masyarakat, para penenun. (R-1/tim)