Ketua Yayasan GPS, Jefrison Hariyanto Fernando (inzet kiri), Pose Bersama Penerima Bantuan
Menia, Pelopor9.com - Yayasan Generasi Peduli Sabu Raijua atau GPS di Kabupaten Sabu Raijua, Propinsi Nusa Tenggara Timur sejak 2 Juni 2015 telah berumur 11 tahun.
Yayasan yang didirikan Jefrison Hariyanto Fernando dan Yulius Boni Geti itu bergerak di bidang sosial, pendidikan dan kebudayaan itu, telah melayani sekitar 1.060 orang anak yatim piatu lewat aksi sosialnya yang selalu berkolaborasi dengan Gereja GMIT.
Ketua Yayasan GPS, Jefrison Hariyanto Fernando, mengatakan bahwa aksi sosial GPS merupakan wujud kepedulian terhadap anak yatim piatu serta sala satu cara untuk menginspirasi anak-anak mudah dan yatim piatu tentang pentingnya berbagai di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sering membuat generasi muda individualis.
Merefleksi perjalanan 11 tahun Yayasan GPS melakukan aksi sosial bersama 30 anak yatim piatu di Gereja Kemah ibadah Jiwuwu, Desa Jiwuwu, Kecamatan Sabu Tengah, Kabupaten Sabu Raijua, Propinsi Nusa Tenggara Timur, Selasa (02/06/2025) sore.
Paket bantuan berupa peralatan sekolah seperti buku dan alat tulis, serta sabun mandi, sabun cuci, odol gigi, pasta gigi hingga sembako.
Yayasan GPS telah berkolaborasi dengan berbagai pihak, masa pandemi Covid 19 membantu ribuan masker dan vitamin bagi masyarakat Sabu Raijua. Demikian pada masa bencana siklon tropis Seroja tahun 2021 membantu masyarakat yang terdampak dengan bantuan bahan bangunan hingga sembako.
Tahun 2023, berkolaborasi dengan Yayasan Humanity First membantu masyarakat di Kampung Raebawa, desa Hallapaji dan kampung perema, Desa Tanajawa dengan bantuan sumur bor, instalasi air bersih hingga tandon air. Beberapa kali menyalurkan daging kurban di Sabu Raijua.
Tahun 2025, membantu pemda Sabu Raijua dengan Alat sentrifugasi pemisahan komponen darah merk Thermo Scientific dalam menangani wabah Demam berdarah melalui hibah Corporate Social Responsibility (CSR ) dari PT Biofarma.
Bidang pendidikan, GPS terus berkomitmen mendukung kemajuan literasi di Sabu Raijua dengan mendirikan rumah baca dan membina Taman Baca Masyarakat atau TBM serta menyerakan bantuan seperti seragam sekolah mulai dari baju, celana, tas, sepatu hingga peralatan tulis kepada anak yatim piatu di Sabu Raijua.
Yayasan GPS juga melakukan Bimbingan belajar bahasa Inggris gratis kepada anak-anak di Rumah Inspirasi Tunas Baru Binaan di Desa Bolua, Kecamatan Raijua dengan tutor mantan Pekerjaan Migran Indonesia (PMI).
Di bidang kebudayaan, Yayasan GPS telah berkontribusi menjaga dan melestarikan budaya lewat pendokumentasian, pelatihan, riset dan pembinaan sanggar seni Budaya.
Juga berkolaborasi dengan komunitas lokal maupun lembaga lain dalam membuat film dokumenter tentang Sabu Raijua, menulis buku tentang Sabu Raijua hingga pada tahun 2024 berkolaborasi dengan Yayasan Marungga meluncurkan website bagi penghayat kepercayaan Jingitiu di Sabu Raijua.
Yayasan GPS juga membina sanggar seni teater, seni musik dan seni tari di Desa Tanajawa, Sanggar Anak Legenda. Sanggar seni tari dan seni musik di Desa Bolua Kecamatan Raijua, Sanggar Niki Deo.
"Kami juga pemberdayaan budaya lewat sanggar binaan. GPS memiliki sanggar binaan dan kami fasilitasi mereka dengan bantuan alat musik dan lain-lain ketika mau tampil",ujar penulis Mitologi dan Budaya Sabu Raijua ini.
Dibidang kebudayaan, rutin menggelar kegiatan pemeran cerita rakyat, pelatihan menulis cerita rakyat bagi siswa/wi SMA di Kabupaten Sabu Raijua.
Pada tanggal 24-26 juli 2026 mendatang , Yayasan GPS atas dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Pemda Sabu Raijua akan menggelar Festival Seni, Literasi Budaya dan Pemeran pangan Lokal. (R-1/tim)